Sabtu, 20 Agustus 2011

Wisata Ziarah dan Sejarah


Oleh Ayatulloh Marsai

“Menjelang bulan suci Ramadhan 1432 H, ribuan peziarah dari berbagai daerah berdatangan ke kawasan Masjid Agung Banten Lama dan makam Sultan Maulana Hasanudin di Kota Serang, Provinsi Banten” (Republika, 25 Juli 2011).
Tardisi ziarah menjelang puasa Ramadhan ini sangat luas tersebar ke seluruh daerah Banten khususnya, Indonesia pada umumnya. Dari kalangan apa saja, petani, pedagang, pengusaha, karyawan dan pegawai pemerintah. Dari kota, hingga ke desa-desa.
Bagi mereka yang punya cukup uang, tidak jarang melewatkan awal puasa dengan berziarah ke Mekkah (umrah). Yang lain juga tidak ketinggalan berduyun-duyun berzaiarah ke makam-makam wali terdekat, atau se-Indonesia. Orang yang mau berangkat ke Mekkah biasanya merasa “wajib” ziarah dulu ke makam wali-wali tanah air. Ini artinya, mereka sadar akan jarak Mekkah cukup jauh. Untuk melakukan perjalanan jauh, maka yang dekat jangan sampai terlewatkan. Dan yang lebih “wajib” lagi ziarah ke makam ibu-bapak, atau nenek-kakek di pemakaman kampung.
Menjelang datangnya bulan puasa kita melihat tradisi ziarah ini begitu fenomenal di masyarakat kita. Kaitannya dengan Ramadhan, ziarah merupakan media menyambung silaturrahmi dengan kerabat dan mendokan bersama orang tua atau saudara-saudara yang sudah meninggal. Dalam tradisi masyarakat kita berziarah ke makam para waliullah dipercaya mempunyai hikmah tersendiri bagi peziarahnya. Terjalinnya tali silaturrahmi, mendo’akan yang sudah meninggal dan bersedekah kepada para pengemis, merupakan bagian dari persiapan-persiapan untuk menjalan ibadah puasa yang hikmat.
Khusus untuk obyek wisata ziarah Banten Lama, seorang arkeolog, Muarif Ambary dalam “Menemukan Peradaban”, menggolongkannya sebagai obyek ziarah death monuments, berkaitan dengan para wali dan keturunannya yang amat kharismatik. Ini bisa dilihat dari berbagai macam prilaku para peziarah. Setiap tahun pada bulan Ramadhan, media massa merekam peningkatan jumlah pengunjung, baik dari lokal Jawa, maupun dari pulau-pulau lain di Indonesia. Situasi ini memperlihatkan Banten secara historis sangat diperhitungkan oleh daerah-daerah lain di Indoensia.
Tentu juga oleh dunia Internasional, tidak jarang kita melihat touris-touris mancanegara berseliweran di kompleks Banten Lama ini. Walaupun perspektif para peziarah tadi berbeda dengan touris mancanegara. Peziarah datang untuk mendo’akan para wali, touris untuk melacak, menelusuri dan meneliti (sejarah) Kerajaan Islam Banten. Perihal penelitian ini sering juga dilakukan oleh para akademisi kita. Dari perbedaan perspektif itu sekaligus menunjukan kesamaan kepada kita bahwa keduanya menunjukan pentingnya kedudukan Banten Lama di mata internasional.
Mestinya, pada perkembangannya nanti, pihak pengelola harus lebih serius menangani wisata ziarah ini. Diantaranya dengan menggabungkan perspektif ziarah dan sejarah dalam satu paket perjalanan wisata. Memisahkan keduanya ibarat memisahkan ruh dari jasadnya. Sebab, memisahkan keteladanan, perjuangan para wali/tokoh sejarah dari dimensi kemanusiaan bisa menjerumuskan pada pengkultusan dan pendewaan tokoh itu sendiri. Bahwa kemashuran Sultan Maulana Hasanudin, Sultan Maulana Yusuf, dan Sultan Ageng Tirtayasa, tidak datang begitu saja. Kemashurannya tidak lepas dari kerja keras, strategi berperang dan memerintah, karya, dan inovasi untuk menyejahterakan rakyatnya. Sebaliknya, memisahkan tokoh sejarah dari keimanan sebagai spirit perjuangannya, juga akan mengkerdilkan pengetahuan sejarah. Padahal dalam setiap peristiwa heroik pasti ada spirit yang diimani oleh tokoh sejarah itu.
Alangkah indahnya bila obyek wisata Banten Lama dikelola dengan menggabungkan dimensi ziarah dan sejarah tersebut. Pengunjung dipandu sejak pintu masuk untuk  berziarah ke makam raja-raja Banten, kemudian ke Masjid Agung, Istana Surosowan, Kaibon, Benteng Spleewizk, Kelenteng, Tasikardi dan Museum Kepubakalaan Banten. Yang terjadi sekarang, jarang sekali para peziarah singgah ke tempat-tempat bersejarah, selain makan dan masjid. Padahal, dengan mengunjungi obyek-obyek lain, seperti istana, benteng, perpustakaan, masjid serta benda-benda rerelik lain dalam wisata ziarah, akan memberikan kesadaran sejarah yang utuh tentang ketokohan dan perannya dalam lingkup kebangsaan.
Pengandaian itu akan terwujud, paling tidak jika terpenuhinya dua hal. Pertama, pengunjung wisata diorganisir. Selama ini pengunjung masih bersifat spontanitas dan tak terorganisir, hingga menyulitkan pengelola untuk memandu secara khusus dan professional. Tidak ada salahnya, pihak pengelola, mulai menggunakan tiket masuk ke komplek Banten Lama dan bekerja sama dengan biro travel. Dengan demikian, disamping bisa mendongkrak pemasukan anggaran bagi pemerintah setempat juga bisa memudahkan pemanduan wisata ziarah dan sejarah ini.
Kedua, pemandu ziarah mempunyai informasi yang cukup tentang latar belakang kesejarahan obyek wisata tersebut. Selama ini juga pemandu ziarah hanya memimpin ziarah. Tidak memberikan informasi kepada peziarah tentang latar belakang sejarah tokoh yang diziarahi. Begitu pun kepada para touris asing, para pemandu tidak bisa memberikan pelayanan lebih. Belum lagi bicara bekal berbahasa asing, mungkin nihil. Maka untuk kepentingan penggalian informasi biasanya touris asing membawa guide sendiri, baik dari biro wisata atau akademisi, untuk mendapatkan informasi yang lengkap mengenai obyek yang dikunjungi.
Bagaimanapun, menurut Ambary (1998: 369), wisata ziarah Islam harus bisa meningkatkan apresiasi terhadap nilai-nilai keislaman dari peninggalan sejarah dan purbakala tersebut, sekaligus meningkatkan penghayatan berdasarkan informasi yang benar dan luas mengenai kedudukan, fungsi dan peran Islam dalam kehidupan bangsa.
Demi tercapainya tujuan itu, baiknya pengelola, pemerintah maupun swasta, tidak memugar aspek-aspek sejarah, karena justru akan mencerabut nilai wisata ziarah dari konteks kesejarahannya. Dan, pada gilirannya akan turut mendangkalkan pemaknaan ziarah itu sendiri. Pemugaran, atau membangun bangunan baru, seandainya diperlukan, hendaknya disinergiskan dengan pendapat para ahli sejarah, arkeolog, dan ahli disiplin lain yang berkaitan. Karena bagaimanapun, kompleks Banten Lama adalah aset bangsa, identitas bangsa, harus dijaga dan dikembangkan bersama untuk kepentingan bangsa.
Termasuk, membeludaknya peziarah setiap tahun pada awal bulan Ramadhan dan Lebaran, semoga memberikan efek keberkahan finansial bagi Negara, sekaligus bisa memperkuat nilai-nilai keislaman dan kebangsaan kita. Amin!
Penulis adalah guru Sejarah Kebudayaan Islam di MTs/MA Al-Khairiyah Karangtengah - Cilegon.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar